Hari ini cuaca sangat cerah. Seperti hari-hari
biasanya, aku menyusuri jalanan untuk berangkat sekolah, aktivitas
pedagang dipinggir jalan dan para pengamen dilampu merah sudah menjadi pemandanganku setiap hari.
Letak sekolahku tidak terlalu jauh dengan rumahku, hanya saja gedung
yang menjulang tinggi membuat rumahku tak terlihat. Hidupku berbeda
dengan teman-teman sekolahku lainya. Mereka bisa saja mendapatkan apa
yang mereka inginkan, tas bagus, sepatu baru, seragam bersih. Sedangkan
aku, beralaskan sepatu buntut yang dibelikan ayahku waktu aku masih
kelas 1 SMP dan untungnya sampai sekarang masih muat aku pakai walaupun
kusam dan bolong. Seragamku pun lusuh karena ibuku tak punya strika.
Tapi itu semua tak pernah menyurutkan semangatku manggapai ilmu, walau
hanya berbekal beasiswa. Sekarang aku sudah duduk di bangku 3 SMA.
Ayahku bekerja sebagai kuli bangunan dan ibuku tukang cuci baju. Aku
tidak memiliki banyak teman di sekolah karena mereka akan berfikir 2
kali untuk bergaul dengan orang sepertiku. Tetapi aku mempunyai seorang
sahabat yang tak pernah malu dengan keadaanku.
“Yuki” Panggil mia,
ya namaku Yuki Pertiwi dan itu sahabatku Mia susanti. Sejak dari SMP dia
yang selalu ada buat aku, walau mia terlahir dari keluarga kaya tetapi
dia tak malu berteman denganku. Prestasi yang kumiliki membuatku
terkenal di mata guru-guru, tetapi tidak di mata temanku, mereka
menganggapku rendah.
“hay, mia” sapaku pada mia, dia menungguku di
gerbang setiap pagi, gadis berkaca mata ini sangat cantik, kulitnya
putih, rambutnya lurus sebahu, badannya langsing. Dia juga pintar di
kelas.
“lama ah kamu” ucapnya dengan senyuman, dia menggandeng
tanganku dan mengajakku masuk. Inilah yang terjadi setiap kali aku
berjalan dengan mia, siswa-siswa lainya pada ngeliatin. mereka melihat
si cantik dan si kusam jalan bareng.
“kalau beteman liat-liat dong,
anak kampungan kayak gini… iihh gak level” kata Lena yang berdiri di
depan kelas. Lena ini adalah perempuan Ular bagiku, dia tak
bosan-bosanya membuat ulah denganku, memang sih dia anak orang kaya,
tapi gayanya selangit. Padahal kalau dibandingin sama Mia, dia kalah
jauh, cantikan juga mia, kalau masalah kaya. Bisa di bilang Mia anak
dari keluarga paling kaya di sekolah ini.
“mendingan lihat tu
dirimu, ini sekolah bukan acara arisan ibu-ibu, menor banget tau.. iihh
gak level” balas Mia, aku hanya tersenyum “Ayo yuki masuk”. “minggir”
ucapnya pada Lena, Lena mulai memeganggi wajahnya, memastikan kalau yang
diucapkan mia gak benar. Tapi ya emang benar. Dimanapun ada aku pasti
ada Mia, walau terkadang takut kalau Mia ikutan tak punya teman
gara-gara dekat sama aku. Tapi mia tak merasa takut dengan semua itu,
dia berfikir anak-anak disini yang diandalkan uang, mereka mau berteman
dengan orang yang punya uang, jadi intinya di sekolahan ini Money is
Everything.
Bel pulang berbunyi, semua siswapun berseru, inilah yang mereka tunggu-tunggu.
“Yuki, aku ke rumah kamu ya?” ucap mia
“ngapain? Nanti kamu dimarahin lo” ucapku, Orang tua Mia memang sedikit
tak menyukaiku, jadi setiap Mia ingin ke rumahku dia terkadang
berbohong kepada orang tuanya.
“enggak kok, ya ya ya”
“tersereah
deh” diapun melonjak kegirangan, entah apa yang dia suka dari rumahku,
padahalkan rumahku kumuh, bau, kotor. Tidak kayak rumahnya yang kayak
istana.
Setelah berjalan limabelas menit akhirnya sampai di
rumahku, seperti biasa Mia langsung duduk di bawah pohon depan rumahku,
mungkin itu yang dia suka, pohon yang berdiri rindang dengan daun yang
berbentuk i love u.
“mau minun?” tanyaku. Mia hanya mengangguk. Dia mengeluarkan pisau kecil dari tasnya, dia membuat sesuatu di pohon tersebut.
“ini minumnya, maaf Cuma air putih” ucapku memberikan segelas air putih.
“gak apa-apa kok” dia tersenyum dan langsung meneguk segelas air putih itu.
“kamu ngapain?” tanyaku
“gak ada” katanya, lalu memberikan gelas yang tadinya penuh sekarang
kosong, diapun kembali mengukir sesuatu di pohon, akupun melihatnya. Dia
mencoba menggambar sesuatu.
“kamu mau gambar apa sih?” tanyaku penasaran
“liat aja kalau udah jadi” ucapnya, dia masih kosentrasi dengan gambarannya.
Setengah jam berlalu, akhirnya mia menyelesaikan gambarannya.
“wow” seruku, setelah melihat gambaran mia.
“bagus kan?” tanyanya. Aku mengangguk. Dia menggambar sosok 2 gadis
yang bergandengan tangan dengan menggunakan seragam sekolah. Disana mia
juga mengukir nama kita berdua. Aku mengambil pisau kecil yang di
pengang mia.
“mau ngapain?” tanyanya. Aku kemudian mengukir sebuah tulisan di bawah gambar mia
“SAHABAT SELAMANYA” ucap mia, membaca ukiran yang aku tulis, dia
tersenyum dan memelukku. Akupun tersenyum. Ku pandang langit biru, Tuhan
masih menyayangiku, engkau memberikan sahabat terbaik untuku.
Hari menjelang sore, supir pribadi mia’pun tiba. Tidak, aku salah. Ternyata yang datang adalah ibu Mia.
“sore tante” sapaku pada ibu mia, aku berniat menyalaminya, tapi dia menghiraukan uluran tanganku.
“mama” ucap Mia, dia merasa tak enak hati dengan sikap mamanya.
“sore” jawabnya ketus. “ayo pulang, kenapa sih kamu ke tempat kayak gini”
“iya iya” jawab Mia sebal
“semenjak kamu temenan sama anak kumuh ini, kamu suka mbangkang mama” akupun hanya terdiam mendengar ucapan mama Mia.
“apaan sih ma, udah pulang yuk” ajaknya. “maaf ya Yuki, aku pulang
dulu” ucapnya padaku, sambil tersenyum, akupun membalas senyumannya.
Mobil mewah Mia pun menghilang, aku masih duduk di bawah pohon. Entah
mengapa aku mulai menyukai tempat ini, kupandangi gambaran Mia, hari
mulai Larut. Aku masih duduk di bawah pohon menantikan ayah dan ibuku
pulang. Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya, akupun beranjak dari
bawah pohon itu dan berlari menuju rumah, aku berhenti sejenak dan
memalingakan wajahku menatap gambaran Mia. Hujan bertambah deras, akupun
berlari masuk rumah. Jam 10.05 malam, ayah dan ibuku belum pulang.
Pikiranku kacau, tak biasanya selarut ini mereka belum pulang.
Akupun tertidur di kursi ruang tamu, malam ini dingin sekali.
“ayah… ibu…” aku terus memanggil nama mereka
“ayah… ibu…” sebuah tangan menepuk bahuku, perlahan ku buka mataku.
“budhe, kok disini” tanyaku pada budheku yang tinggal jauh dari
keluargaku, mengapa dia ada disini. Ternyata aku ketiduran sampai pagi.
Budhe masih tak menjawab pertanyaanku. Akupun melihat sekeliling,
seingatku aku tertidur di ruang tamu, kenapa sekarang aku dikamarku.
“yuki…” suara budhe terdengar menyedihkan. Ku dengar suara banyak orang
di luar, suara orang menangis. Akupun beranjak dari ranjangku, aku
berjalan keluar. Ku tatap budheku, wajahnya pucat seperti habis
menangis, ku baka pintu kamarku. DEG… jantungku berdegup kencang,
tubuhku lemas. Seperti dunia ini hancur. Ku lihat sepasang jazad
tertidur dengan lelap.
“ayah… ibu…!” akupun berteriak setelah
melihat jazad kedua orang tuaku. Orang-orang disitupun mencoba
menguatkanku. Akupun menangis.
“ayah… ibu… kenapa kalian ninggalin aku” ucapku di depan jazad mereka. “ajak aku ayah, ibu” pikiranku kacau.
“yuki” panggil seseorang, ya Mia, dia datang kerumahku. Dia juga kaget
melihat semua itu. Dia memelukku, akupun menangis dalam pelukannya.
“ayah… ibu…” aku masih memanggil mereka. Kenapa tuhan lakukan ini semua padaku. Mia melepaskan pelukannya.
“yuki, yang sabar ya” ucapnya. Aku masih tak percaya dengan semua ini.
Kupukul-pukul dadaku, karena aku mulai sesak dengan semua ini. Mia
menahan tanganku. Dia menangis. Tuhan… teriakku dalam hati.
Sebulan setelah kepergian Orang tuaku, aku mulai tak semangat menhadapi
hari-hariku. Yang kulakukan hanya duduk terdiam di bawah pohon. Ku lihat
gambaran Mia mulai rusak. Tangan yang bergandengan menjadi hilang.
Entah tandanya apa. Wajah kami yang dulu terlihat bahagia, sekarang
pudar.
Aku sudah tak sanggup dengan ini semua.
“yuki” panggil
mia, dia hari datang ke rumahku. Karena mama’nya mia yang tak suka
denganku, Mia mulai tak diizinkan untuk kerumahku.
Aku masih
terdiam. “yuki” panggilnya lagi. “yuki” dia mendekatiku, aku masih tak
bergerak dari posisiku. Dia memelukku. Aku menangis.
“Mia, kenapa hidupku kayak gini, tuhan tak adil padaku?” tanyaku pada mia
“yuki, kamu gak boleh ngomong kayak gitu” ucapnya
“tapi emang kenyataanya kan?” akupun terisak
“ki, Tuhan akan selalu memberikan yang terbaik untuk hambanya, semua
telah tertulis, hidup mati kita tuhan telah mengaturnya, kebahgiaan,
kesedihan. Semua telah dalam rencana tuhan. Tanpa adanya kesedihan kita
tak akan tau rasanya kebahagiaan. kita terlahir di dunia ini tanpa
apa-apa dan kita akan kembali pada-Nya lagi” jelas Mia. Aku terdiam,
memang apa yang mia bilang.
“ki, tak ada yang salah dengan rencana
tuhan” mia tersenyum, aku menatap senyuman itu. Ah senyuman seorang
sahabat yang akan selalu terkenang.
“Terimakasih Mia” ucapku. Mia mengangguk.
—
“Mia!” teriakku. Melihat mia tertabrak mobil. Tuhan, rencana apalagi
yang engkau tuliskan. Ambulanpun membawa Mia ke rumah sakit. Mia masih
sadar, sayup-sayup berusaha membuka matanya, tetapi dia harus
mendapatkan pertolongan cepat. Pihak rumah sakit menghubungi keluarga
mia. Tetapi Mia masih sempat memberikan senyuman untukku. Oh akankan aku
kehilangan senyuman itu. Tidak! ini tak boleh terjadi.
Dokter menjelaskan kondisi Mia kepada orang tuanya, aku mencoba mendengarkan pembicaraan mereka.
“maaf pak, Mia harus segera mendapatkan donor Jantung secepatnya,
Jantungnya rusak karena kecelakaan tadi, dan mungkin hanya dapat
bertahan beberapa jam lagi” papa mama Mia menangis.
Apa yang
harus aku lakukan, kutatap wajah mia yang terbaring. Mama dan papa Mia
masuk ke dalam, entah aku merasa bersalah pada mereka. Aku hendak keluar
meninggalkan mereka. Tapi tiba-tiba Mama mia memelukku. Akupun membalas
pelukanya. Kemudian aku keluar dari ruangan Mia. Ku lihat wajah mia
dari jendela. Aku tersenyum. “Aku bahagia mengenalmu Mia” ucapku.
Saat itu aku bertemu dengan Dokter yang merawat Mia. “Dok, tolong lakukan operasi secepatnya buat Mia” ucapku
“tapi, kita belum dapat pendonornya dik” ucapnya
“ada Dok” akupun meninggalkan tempat itu
Aku berlari keluar rumah sakit. Lari dan Lari. Ini pilihanku, aku
berhenti di pinggir jalan. Ku lihat Mobil melaju dengan cepat, ini
pilihanku. Aku berlari dan berhenti. Ku tutup mataku. Suara klakson
mobil tak kuhiraukan. “Terimaksih Mia” kata terakhirku. Tubuhkupun
terhempas tertabrak mobil. Ayah… Ibu… Jemput aku. Aku takut tersesat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar