Kamis, 14 Agustus 2014

Lukisan Bergetar

Jangan bertanya padaku si anak durhaka mengenai Ibu, perempun yang disapa dengan sepenuh keagungan jiwa, pemujaan, permohonan doa dan restu. Aku tak mau mengenal Ibu. Aku telah dititipkan Ibu pada saudara sepupunya, perempuan bawel yang mempekerjakanku serupa budak. Aku lari dari keluarga perempuan bawel itu, dan menemukan duniaku sendiri, bekerja, hingga membeli rumah tua yang kini kutempati. Aku terperanjat ketika datang ke rumahku seorang gadis dengan pandangan yang berkaca-kaca. Ia mencari ibu kandungnya. Perempuan dalam lukisan di ruang tamuku, dikatakan sebagai sosok Ibu yang dicarinya. Ditatapnya lekat-lekat lukisan itu. Sebuah lukisan perempuan berbaju hijau lumut, berkain, duduk menyamping di kursi ukir. Lukisan itu telah dipakukan di dinding ruang tamu, barangkali setua bangunan ini. Tak kutemukan keterangan apa pun mengenai lukisan itu, hingga datang seorang gadis, yang bertanya, di mana perempuan dalam lukisan itu.
Sama sekali aku tak mengerti, di mana sekarang perempuan dalam lukisan itu tinggal. Apa peduliku dengan perempuan itu? Pada Ibu yang melahirkanku, ketika ia sakit dan meninggal dunia, tak kutengok sekejap pun. Ia dimakamkan, tanpa kehadiranku. Dua adik perempuanku yang tak pernah disia-siakan Ibu sepertiku berkali-kali meneleponku. Tak kubalas.
Lalu, apa artinya kini, melacak seorang ibu dari sebuah lukisan? Lukisan itu telah menjadi satu dengan dinding, semenjak rumah tua itu kubeli. Sama sekali aku tak terganggu dengan lukisan itu, sampai datang seorang perempuan muda itu dari kota yang jauh. Ia mencari pemilik rumah, seorang ibu yang dilukis dan terpasang di dinding ruang tamu. Melacak wanita dalam lukisan, yang lengkung alisnya tergores lembut, dengan sepasang mata memendam perhatian. Garis bibir dan dagu menampakkan kesepian yang panjang dan tertahan.
Lukisan itu selalu bergetar pada saat angin berembus lewat pintu ruang tamu yang terbentang. Lukisan itu tepat berhadap-hadapan dengan pintu, dan setiap saat angin menggetarkannya. Perempuan dalam lukisan itu seperti bergerak dari bingkainya.
Perempuan muda itu memandangi lukisan yang bergetar dengan mata yang berkejap. Sepasang mata yang penuh harap.
Antarkan aku ke rumah Ibu!
Aku masih tergagap. Merasa asing dengan permintaannya. Tak pernah aku mendatangi Ibu. Apalagi mencarinya. Hingga Ibu jatuh sakit, terbaring koma lebih dari sepuluh hari, dan pada akhirnya meninggal di hari kesebelas, aku tak menengoknya. Telepon rumah berdering berkali- kali. Tak berhenti berdering. Kututup kembali. Kubiarkan mereka dua adik perempuanku  menelepon dan mencaci-maki. Aku tak peduli.
Maaf, aku tak bisa menemanimu.
Kalau begitu, beri aku alamat Ibu.
Perempuan muda itu memendam sorot mata yang penuh harap dan cemas. Hari sudah larut. Ia belum beranjak dari rumahku, wajahnya tampak ragu. Tapi aku tak mau jatuh iba padanya. Aku tak ingin melihat dia bertemu dengan ibunyaĆ¢€”wanita yang telah melahirkannya.
Telah kuputuskan mencari Ibu. Tak kusangka akan sesulit ini. Sekalipun Ibu telah membuangku, tak akan kucemooh dia. Aku ingin bertemu dengannya.
Di pelataran rumah, dia masih membujukku untuk menemani mencari ibunya. Kutolak. Kali ini suaraku dingin. Mungkin ketus. Aku memang harus memperlihatkan pendirianku padanya. Aku tak suka melihat raut wajahnya yang cengeng.
Lelaki pemilik rumah itu sungguh menjengkelkan. Dia tak mau mengantarkanku mencari alamat Ibu. Baru pertama kali aku menginjakkan kaki di kota kecil kelahiranku ini. Dua puluh tiga tahun orangtua angkatku membawaku meninggalkan kota kecil yang sepi ini. Baru seminggu yang lalu, ketika aku hendak dilamar calon suami, kedua orangtua angkatku berterus terang. Kau masih memiliki seorang ibu ya, perempuan yang mengandung dan melahirkanmu. Ia tinggal di sebuah rumah tua, dengan arsitektur lama. Kulacak. Kutemukan rumah yang kokoh, tinggi, dan kusam. Tapi aku tak menemukan Ibu. Rumah itu sudah dijualnya. Dan lelaki muda yang telah membeli rumah Ibu, alangkah tolol dia. Sama sekali tak mau menolongku.
Hanya lukisan tua itu yang menghiburku. Setidaknya, aku sudah melihat wajah Ibu semasa muda. Bermata teduh, dan sekelam lumpur yang dalam. Mungkin lumpur itu menenggelamkan seseorang. Aku tak paham, barangkali lelaki-lelaki terperosok ke dalam lumpur mata itu. Orangtua angkatku tak memberi tahu siapa ayahku. Aku hanya diberi tahu tentang Ibu. Dan Ayah, bahkan namanya pun tak disebutkan. Apalagi wajahnya, sungguh tak kukenal.
Ketika kutemukan rumah tua, sesuai dengan alamat yang diberikan orangtua angkatku, aku merasa lega. Apalagi di dinding ruang tamu pemuda itu terpasang wajah Ibu. Wajah wanita yang menanggung kesepian yang terpendam. Kurasa aku sudah dekat bersua Ibu. Tapi aku cuma menemukan lukisannya. Sama sekali tak kutemukan jejaknya. Mungkin aku masih jauh bersua dengannya.
Mestinya pemuda pemilik rumah itu bisa membantuku. Dia memilih tak mau tahu persoalanku. Ia menutup diri, dan aku telah gagal membuka hatinya. Ia tenggelam ke dalam dirinya sendiri. Dan aneh, bagiku, bagaimana mungkin seorang lelaki yang mencapai usia tiga puluh seperti dia, tanpa istri dan anak, malah berhasrat memenjarakan diri?
Larut malam, tak ada taksi yang bisa kusewa untuk melacak rumah Ibu. Kota kecil ini sungguh sunyi. Kutemui beberapa becak yang diparkir di tepi jalan raya dengan pengayuh yang tertidur di dalamnya. Mereka tak memerlukan penumpang. Ini kota tua. Kota yang mati pada malam hari. Orang tak berani melintas di jalanan. Lampu-lampu pun remang-remang, dan kelelawar berseliweran dengan kepak sayap yang memperpekat sunyi. Langit di atas kota serupa selubung kain yang mudah koyak.
Kudapatkan sebuah hotel kecil, tua, dengan kamar yang melapuk pintunya, aus catnya, dan berdebu. Kecoa berseliweran. Nyamuk berdenging merubung tubuhku. Bagaimana aku bisa tidur di kamar serupa ini? Segelas teh dan sepotong kue yang dihidangkan pun terasa basi. Tak mungkin aku beristirahat dengan suasana jorok macam ini.
Berjalan-jalan meninggalkan kamar hotel, aku ingin menghirup udara malam kota tua ini. Barangkali aku akan menemukan rumah Ibu. Ingin kutebus kehinaanku sebagai perempuan tak beribu, yang hanya mengenal orangtua angkat. Getir rasa hatiku tak mengenal ibu kandung. Aku ingin sebagaimana layaknya seorang gadis yang dipinang calon suami, bisa mempertemukan dengan ibu kandung. Bahkan mungkin bisa mempertemukan dengan kerabatku. Tak hanya orangtua angkat yang bisa kutunjukkan pada keluarga mempelai lelaki.
Tapi kini, di kota tua ini, aku mesti berjalan sendirian mencari Ibu. Kalaupun calon suamiku memutuskan untuk meninggalkanku, karena aku tak memiliki ibu kandung yang bisa kupertemukan dengannya, aku harus rela. Aku tak berhak mencegahnya.
Terus melangkah dalam sunyi malam yang gelisah, sampailah aku di alun-alun, di bawah pohon beringin, di dekat penjual wedang ronde. Seorang lelaki tengah duduk mencangkung. Menikmati kesunyiannya. Aku merasa sangat mengenal lelaki itu. Memang betul. Dialah pemilik rumah tua, yang baru saja kutinggalkan. Duduk seorang diri. Terperanjat sebentar menatapku. Kutemukan lelaki muda itu tengah menyendoki wedang ronde. Hati-hati, pelan sekali, ia meletakkan minumannya, seperti tak pernah mengenalku. Mungkin ia tak mau bertemu dengan siapa pun. Lelaki itu terasing dan memilih jalan sunyi. Ia memang berpura-pura tak mengenalku. Sepasang matanya mengusir, menolak, bahkan memusuhiku.
Aku masih berharap kau mau menemaniku mencari Ibu, pintaku.
Larut malam begini?
Bila tak kuantar, aku tak tahu jalan.
Memandangiku dengan mata yang keropos, lelaki itu mencairkan kebenciannya padaku. Mata itu berkabut. Aku menatapnya dengan hangat. Dan kabut dalam mata itu lenyap. Lama. Lambat-lambat. Matanya mulai bersahabat. Dia tak lagi menyembunyikan muka dariku.
Kami berjalan bersama dalam samar cahaya bulan, tanpa tegur sapa. Dia melangkah dengan suara kaki yang pasti. Tak seorang pun kami temui di jalan. Hanya anjing-anjing buduk yang mengais-ngais sampah, sesekali melintas. Kami melangkah dalam diam. Menyusur jalan lengang, berkelok-kelok, kian jauh dari jantung kota, dan memasuki perkampungan.
Langkah kakiku sudah penat ketika kami mencapai sebuah rumah yang diduga pemuda itu ditempati Ibu. Tengah malam lewat, kami memasuki pelataran rumah tua dengan tembok mengelupas dan berlumut. Gelap. Kusentuh pintunya. Berderit terbuka. Di dalam pun tak terlihat seseorang. Tanpa cahaya. Kelelawar terbang menerobos celah pintu. Laba-laba bergerak menggetarkan jaring-jaringnya.
Dengan cahaya korek api kami menjelajahi seluruh ruangan. Rumah tua ini memang sudah ditinggalkan penghuninya. Debu, lumut, dan lembab udara, menyesakkan dada. Aku berhenti lama di depan pintu sebuah kamar. Barangkali di sinilah Ibu tidur. Kupandangi. Dan kubayangkan Ibu tergolek. Sendiri. Tatapannya menerawang. Kalau Ibu tengah terbaring di kamar ini, tentu aku akan menyempatkan diri bertanya. Kenapa Ibu memberikanku pada orang lain?
Barangkali pertanyaan ini akan menyakitkan Ibu. Tapi ini akan meruntuhkan beban yang menekan bergelayut dalam kepalaku. Toh Ibu kata orangtua angkatku tak memiliki anak selain aku. Apa lagi yang dirahasiakannya dariku?
Mari kita pulang! ajak pemuda itu, pelan.
Pulang?
Ya. Menginaplah di rumahku.
Membayangkan perempuan muda itu, sambil memandangi lukisan yang bergantung di ruang tamu, aku mulai sadar kini, mereka memang mirip. Malam itu ketika perempuan muda itu tidur di kamar depan, aku sempat memandanginya. Aku tersihir. Terkesima. Dialah perempuan dalam lukisan itu. Tubuhnya bergeletar. Aku seperti terisap untuk mendekatinya, lebih lekat, lebih lekat, menyatu ke dalam kesunyian yang mula-mula lembut, dan lambat laun bergelora, mengempas-empaskanku.
Tak kutemukan perempuan muda itu saat aku terbangun. Dia sudah menghilang. Mungkin sudah kembali pulang. Mungkin ia mencari ibu kandungnya. Aku tak berselera melakukan apa pun. Cuma memandangi perempuan dalam lukisan itu. Tiap kali angin berhembus, lukisan itu bergetar. Tapi kali ini dadaku pun bergetar. Tak bisa kuredakan.
Malam ketiga setelah perempuan muda itu menghilang, aku tak kuasa menahan diri. Aku menanti fajar untuk melakukan perjalanan. Telah kuputuskan untuk melacak perempuan muda itu. Tak mungkin kutunda lagi. Aku merasa keropos. Tak ingin kurasakan kekeroposan hati kian menjalar melapukkan seluruh persendianku. Ingin kutemukan rumah tempat tinggal perempuan itu. Ini sungguh mendebarkan, serupa memasuki permainan masa kanak-kanak bersama teman-temankuĆ¢€”sebelum aku direnggut dari dunia itu untuk mengikuti saudara sepupu Ibu. Akan kucari perempuan titisan lukisan di ruang tamu. Biar kuajak dia ke rumahku, dan kutemani mencari ibu kandungnya ke mana pun, sampai ketemu.

Senyuman Seorang Sahabat

Hari ini cuaca sangat cerah. Seperti hari-hari biasanya, aku menyusuri jalanan untuk berangkat sekolah, aktivitas pedagang dipinggir jalan dan para pengamen dilampu merah sudah menjadi pemandanganku setiap hari.

Letak sekolahku tidak terlalu jauh dengan rumahku, hanya saja gedung yang menjulang tinggi membuat rumahku tak terlihat. Hidupku berbeda dengan teman-teman sekolahku lainya. Mereka bisa saja mendapatkan apa yang mereka inginkan, tas bagus, sepatu baru, seragam bersih. Sedangkan aku, beralaskan sepatu buntut yang dibelikan ayahku waktu aku masih kelas 1 SMP dan untungnya sampai sekarang masih muat aku pakai walaupun kusam dan bolong. Seragamku pun lusuh karena ibuku tak punya strika. Tapi itu semua tak pernah menyurutkan semangatku manggapai ilmu, walau hanya berbekal beasiswa. Sekarang aku sudah duduk di bangku 3 SMA.

Ayahku bekerja sebagai kuli bangunan dan ibuku tukang cuci baju. Aku tidak memiliki banyak teman di sekolah karena mereka akan berfikir 2 kali untuk bergaul dengan orang sepertiku. Tetapi aku mempunyai seorang sahabat yang tak pernah malu dengan keadaanku.
“Yuki” Panggil mia, ya namaku Yuki Pertiwi dan itu sahabatku Mia susanti. Sejak dari SMP dia yang selalu ada buat aku, walau mia terlahir dari keluarga kaya tetapi dia tak malu berteman denganku. Prestasi yang kumiliki membuatku terkenal di mata guru-guru, tetapi tidak di mata temanku, mereka menganggapku rendah.
“hay, mia” sapaku pada mia, dia menungguku di gerbang setiap pagi, gadis berkaca mata ini sangat cantik, kulitnya putih, rambutnya lurus sebahu, badannya langsing. Dia juga pintar di kelas.
“lama ah kamu” ucapnya dengan senyuman, dia menggandeng tanganku dan mengajakku masuk. Inilah yang terjadi setiap kali aku berjalan dengan mia, siswa-siswa lainya pada ngeliatin. mereka melihat si cantik dan si kusam jalan bareng.
“kalau beteman liat-liat dong, anak kampungan kayak gini… iihh gak level” kata Lena yang berdiri di depan kelas. Lena ini adalah perempuan Ular bagiku, dia tak bosan-bosanya membuat ulah denganku, memang sih dia anak orang kaya, tapi gayanya selangit. Padahal kalau dibandingin sama Mia, dia kalah jauh, cantikan juga mia, kalau masalah kaya. Bisa di bilang Mia anak dari keluarga paling kaya di sekolah ini.
“mendingan lihat tu dirimu, ini sekolah bukan acara arisan ibu-ibu, menor banget tau.. iihh gak level” balas Mia, aku hanya tersenyum “Ayo yuki masuk”. “minggir” ucapnya pada Lena, Lena mulai memeganggi wajahnya, memastikan kalau yang diucapkan mia gak benar. Tapi ya emang benar. Dimanapun ada aku pasti ada Mia, walau terkadang takut kalau Mia ikutan tak punya teman gara-gara dekat sama aku. Tapi mia tak merasa takut dengan semua itu, dia berfikir anak-anak disini yang diandalkan uang, mereka mau berteman dengan orang yang punya uang, jadi intinya di sekolahan ini Money is Everything.

Bel pulang berbunyi, semua siswapun berseru, inilah yang mereka tunggu-tunggu.
“Yuki, aku ke rumah kamu ya?” ucap mia
“ngapain? Nanti kamu dimarahin lo” ucapku, Orang tua Mia memang sedikit tak menyukaiku, jadi setiap Mia ingin ke rumahku dia terkadang berbohong kepada orang tuanya.
“enggak kok, ya ya ya”
“tersereah deh” diapun melonjak kegirangan, entah apa yang dia suka dari rumahku, padahalkan rumahku kumuh, bau, kotor. Tidak kayak rumahnya yang kayak istana.

Setelah berjalan limabelas menit akhirnya sampai di rumahku, seperti biasa Mia langsung duduk di bawah pohon depan rumahku, mungkin itu yang dia suka, pohon yang berdiri rindang dengan daun yang berbentuk i love u.
“mau minun?” tanyaku. Mia hanya mengangguk. Dia mengeluarkan pisau kecil dari tasnya, dia membuat sesuatu di pohon tersebut.
“ini minumnya, maaf Cuma air putih” ucapku memberikan segelas air putih.
“gak apa-apa kok” dia tersenyum dan langsung meneguk segelas air putih itu.
“kamu ngapain?” tanyaku
“gak ada” katanya, lalu memberikan gelas yang tadinya penuh sekarang kosong, diapun kembali mengukir sesuatu di pohon, akupun melihatnya. Dia mencoba menggambar sesuatu.
“kamu mau gambar apa sih?” tanyaku penasaran
“liat aja kalau udah jadi” ucapnya, dia masih kosentrasi dengan gambarannya.

Setengah jam berlalu, akhirnya mia menyelesaikan gambarannya.
“wow” seruku, setelah melihat gambaran mia.
“bagus kan?” tanyanya. Aku mengangguk. Dia menggambar sosok 2 gadis yang bergandengan tangan dengan menggunakan seragam sekolah. Disana mia juga mengukir nama kita berdua. Aku mengambil pisau kecil yang di pengang mia.
“mau ngapain?” tanyanya. Aku kemudian mengukir sebuah tulisan di bawah gambar mia
“SAHABAT SELAMANYA” ucap mia, membaca ukiran yang aku tulis, dia tersenyum dan memelukku. Akupun tersenyum. Ku pandang langit biru, Tuhan masih menyayangiku, engkau memberikan sahabat terbaik untuku.

Hari menjelang sore, supir pribadi mia’pun tiba. Tidak, aku salah. Ternyata yang datang adalah ibu Mia.
“sore tante” sapaku pada ibu mia, aku berniat menyalaminya, tapi dia menghiraukan uluran tanganku.
“mama” ucap Mia, dia merasa tak enak hati dengan sikap mamanya.
“sore” jawabnya ketus. “ayo pulang, kenapa sih kamu ke tempat kayak gini”
“iya iya” jawab Mia sebal
“semenjak kamu temenan sama anak kumuh ini, kamu suka mbangkang mama” akupun hanya terdiam mendengar ucapan mama Mia.
“apaan sih ma, udah pulang yuk” ajaknya. “maaf ya Yuki, aku pulang dulu” ucapnya padaku, sambil tersenyum, akupun membalas senyumannya.

Mobil mewah Mia pun menghilang, aku masih duduk di bawah pohon. Entah mengapa aku mulai menyukai tempat ini, kupandangi gambaran Mia, hari mulai Larut. Aku masih duduk di bawah pohon menantikan ayah dan ibuku pulang. Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya, akupun beranjak dari bawah pohon itu dan berlari menuju rumah, aku berhenti sejenak dan memalingakan wajahku menatap gambaran Mia. Hujan bertambah deras, akupun berlari masuk rumah. Jam 10.05 malam, ayah dan ibuku belum pulang. Pikiranku kacau, tak biasanya selarut ini mereka belum pulang.
Akupun tertidur di kursi ruang tamu, malam ini dingin sekali.
“ayah… ibu…” aku terus memanggil nama mereka
“ayah… ibu…” sebuah tangan menepuk bahuku, perlahan ku buka mataku.
“budhe, kok disini” tanyaku pada budheku yang tinggal jauh dari keluargaku, mengapa dia ada disini. Ternyata aku ketiduran sampai pagi. Budhe masih tak menjawab pertanyaanku. Akupun melihat sekeliling, seingatku aku tertidur di ruang tamu, kenapa sekarang aku dikamarku.
“yuki…” suara budhe terdengar menyedihkan. Ku dengar suara banyak orang di luar, suara orang menangis. Akupun beranjak dari ranjangku, aku berjalan keluar. Ku tatap budheku, wajahnya pucat seperti habis menangis, ku baka pintu kamarku. DEG… jantungku berdegup kencang, tubuhku lemas. Seperti dunia ini hancur. Ku lihat sepasang jazad tertidur dengan lelap.
“ayah… ibu…!” akupun berteriak setelah melihat jazad kedua orang tuaku. Orang-orang disitupun mencoba menguatkanku. Akupun menangis.
“ayah… ibu… kenapa kalian ninggalin aku” ucapku di depan jazad mereka. “ajak aku ayah, ibu” pikiranku kacau.
“yuki” panggil seseorang, ya Mia, dia datang kerumahku. Dia juga kaget melihat semua itu. Dia memelukku, akupun menangis dalam pelukannya.
“ayah… ibu…” aku masih memanggil mereka. Kenapa tuhan lakukan ini semua padaku. Mia melepaskan pelukannya.
“yuki, yang sabar ya” ucapnya. Aku masih tak percaya dengan semua ini. Kupukul-pukul dadaku, karena aku mulai sesak dengan semua ini. Mia menahan tanganku. Dia menangis. Tuhan… teriakku dalam hati.

Sebulan setelah kepergian Orang tuaku, aku mulai tak semangat menhadapi hari-hariku. Yang kulakukan hanya duduk terdiam di bawah pohon. Ku lihat gambaran Mia mulai rusak. Tangan yang bergandengan menjadi hilang. Entah tandanya apa. Wajah kami yang dulu terlihat bahagia, sekarang pudar.
Aku sudah tak sanggup dengan ini semua.
“yuki” panggil mia, dia hari datang ke rumahku. Karena mama’nya mia yang tak suka denganku, Mia mulai tak diizinkan untuk kerumahku.
Aku masih terdiam. “yuki” panggilnya lagi. “yuki” dia mendekatiku, aku masih tak bergerak dari posisiku. Dia memelukku. Aku menangis.
“Mia, kenapa hidupku kayak gini, tuhan tak adil padaku?” tanyaku pada mia
“yuki, kamu gak boleh ngomong kayak gitu” ucapnya
“tapi emang kenyataanya kan?” akupun terisak
“ki, Tuhan akan selalu memberikan yang terbaik untuk hambanya, semua telah tertulis, hidup mati kita tuhan telah mengaturnya, kebahgiaan, kesedihan. Semua telah dalam rencana tuhan. Tanpa adanya kesedihan kita tak akan tau rasanya kebahagiaan. kita terlahir di dunia ini tanpa apa-apa dan kita akan kembali pada-Nya lagi” jelas Mia. Aku terdiam, memang apa yang mia bilang.
“ki, tak ada yang salah dengan rencana tuhan” mia tersenyum, aku menatap senyuman itu. Ah senyuman seorang sahabat yang akan selalu terkenang.
“Terimakasih Mia” ucapku. Mia mengangguk.



“Mia!” teriakku. Melihat mia tertabrak mobil. Tuhan, rencana apalagi yang engkau tuliskan. Ambulanpun membawa Mia ke rumah sakit. Mia masih sadar, sayup-sayup berusaha membuka matanya, tetapi dia harus mendapatkan pertolongan cepat. Pihak rumah sakit menghubungi keluarga mia. Tetapi Mia masih sempat memberikan senyuman untukku. Oh akankan aku kehilangan senyuman itu. Tidak! ini tak boleh terjadi.
Dokter menjelaskan kondisi Mia kepada orang tuanya, aku mencoba mendengarkan pembicaraan mereka.
“maaf pak, Mia harus segera mendapatkan donor Jantung secepatnya, Jantungnya rusak karena kecelakaan tadi, dan mungkin hanya dapat bertahan beberapa jam lagi” papa mama Mia menangis.

Apa yang harus aku lakukan, kutatap wajah mia yang terbaring. Mama dan papa Mia masuk ke dalam, entah aku merasa bersalah pada mereka. Aku hendak keluar meninggalkan mereka. Tapi tiba-tiba Mama mia memelukku. Akupun membalas pelukanya. Kemudian aku keluar dari ruangan Mia. Ku lihat wajah mia dari jendela. Aku tersenyum. “Aku bahagia mengenalmu Mia” ucapku.
Saat itu aku bertemu dengan Dokter yang merawat Mia. “Dok, tolong lakukan operasi secepatnya buat Mia” ucapku
“tapi, kita belum dapat pendonornya dik” ucapnya
“ada Dok” akupun meninggalkan tempat itu
Aku berlari keluar rumah sakit. Lari dan Lari. Ini pilihanku, aku berhenti di pinggir jalan. Ku lihat Mobil melaju dengan cepat, ini pilihanku. Aku berlari dan berhenti. Ku tutup mataku. Suara klakson mobil tak kuhiraukan. “Terimaksih Mia” kata terakhirku. Tubuhkupun terhempas tertabrak mobil. Ayah… Ibu… Jemput aku. Aku takut tersesat.

Perlombaan Kelinci Dan Kura-Kura








Di sebuah hutan kecil di pinggir desa ada seekor kelinci yang sombong. Dia suka mengejek hewan – hewan lain yang lebih lemah. Hewan – hewan lain seperti kura – kura, siput, semut dan hewan – hewan kecil lain tidak ada yang suka pada kelinci yang sombong itu.
Suatu hari, si kelinci berjalan dengan angkuhnya mencari lawan yang lemah untuk diejeknya. Kebetulan dia bertemu dengan kura – kura.
Kelinci : “Hei, kura – kura, si lambat, kamu jangan jalan aja dong…..lari begitu, biar cepat sampai.”
Kura – kura : “Biarlah kelinci, memang jalanku lambat. Yang penting aku sampai dengan selamat ke tempat tujuanku, daripada cepat – cepat nanti jatuh dan terluka.”
Kelinci : “Hei kura – kura, bagaimana kalau kita adu lari. Kalau kau bisa menang, aku akan beri hadiah apapun yang kau minta.”
Padahal di dalam hati kelinci berkata.
Kelinci : “Mana mungkin dia akan bisa mengalahkanku.”
Kura – kura : “Wah, kelinci mana mungkin aku bertanding adu cepat denganmu, kamu bisa lari dan loncat dengan cepat, sedangkan aku berjalan selangkah demi selangkah sambil membawa rumahku yang berat ini.”
Kelinci : “Nggak bisa, kamu nggak boleh menolak tantanganku ini. Pokoknya besok pagi aku tunggu kau di bawah pohon beringin. Aku akan menghubungi pak serigala untuk menjadi wasitnya.”
Kura – kura hanya bisa diam melongo. Di dalam hatinya berkata.
Kura – kura : “Mana mungkin aku bisa mengalahkan kelinci ?”
Keesokan harinya si kelinci menunggu dengan sombongnya di bawah pohon beringin. Pak serigala juga sudah datang untuk menjadi wasit. Setelah kura – kura datang pak serigala berkata.
Pak serigala : “Peraturannya begini, kalian mulai dari pohon garis di sebelah sana yang di bawah pohon mangga itu. Kalian bisa lihat nggak ?”
Kelinci : “Bisa….”
Kura – kura : “Bisa….”
Pak serigala : “Nah siapa yang bisa datang duluan di bawah pohon beringin ini, itulah yang menang.” Oke,……satu……dua……tiga……mulai !”
Kelinci segera meloncat mendahului kura – kura, yang mulai melangkah pelan karena dia tidak bisa meninggalkan rumahnya.
Kelinci : “Ayo kura – kura, lari dong !” Baiklah aku tunggu disini ya….”
Kelinci duduk sambil bernyanyi. Angin waktu itu berhembus pelan dan sejuk, sehingga membuat kelinci mengantuk dan tak lama kemudian kelinci pun tertidur.
Dengan pelan tapi pasti kura – kura melangkah sekuat tenaga. Dengan diam – diam dia melewati kelinci yang tertidur pulas. Beberapa langkah lagi dia akan mencapai garis finish. Ketika itulah kelinci bangun. Betapa terkejutnya dia melihat kura – kura sudah hampir mencapai finish sekuat tenaga dia berlari dan meloncat untuk mengejar kura – kura. Namun sudah terlambat, kaki kura – kura telah menyentuh garis finish dan pak serigala telah memutuskan bahwa pemenangnya adalah kura – kura. Si kelinci sombong terdiam terhenyak, seolah tak percaya bahwa dia bisa tertidur. Jadi siapa pemenangnya ya kura – kura.

Raja Paraket




Tersebutlah kisah, seekor raja burung parakeet hidup beserta rakyatnya di sebuah hutan di Aceh. Hidup mereka damai. Kedamaian tersebut terganggu, karena kehadiran seorang pemburu.  Pada suatu hari pemburu tersebut berhasil menaruh perekat di sekitar sangkar-sangkar burung tersebut.

Mereka berusaha melepaskan sayap dan badan  dari perekat tersebut. Namun upaya tersebut gagal. Hampir semuanya panik,kecuali si raja parakeet. Ia berkata, "Saudaraku, tenanglah. Ini adalah perekat yang dibuat oleh pemburu. Kalau pemburu itu datang, berpura-puralah mati. Setelah melepaskan perekat, pemburu itu akan memeriksa kita. Kalau ia mendapatkan kita mati, ia akan membuang kita. Tunggulah sampai hitungan ke seratus, sebelum kita bersama-sama terbang kembali.
 Keesokan harinya, datanglah pemburu tersebut. Setelah melepaskan perekatnya, ia mengambil hasil tangkapannya. Betapa ia kecewa setelah mengetahui burung-burung tersebut sudah tidak bergerak, disangkanya sudah mati. Namun pemburu tersebut jatuh terpeleset, sehingga membuat burung-burung yang ada ditanah terkejut dan terbang. Hanya raja parakeet yang belum terlepas dari perekat. Iapun ditangkap.
Raja Parakeet meminta pada pemburu itu untuk tidak dibunuh. Sebagai imbalannya ia akan selalu menghibur si  pemburu. Hampir tiap hari ia bernyanyi dengan merdunya. Khabar kemerduan suara burung itu terdengar sampai ke telinga sang Raja.
Raja menginginkan burung parakeet tersebut. Sang Raja kemudian menukar burung itu dengan harta-benda yang sangat banyak. Di istana sang Raja, burung parakeet ditaruh didalam sebuah sangkar emas. Setiap hari tersedia makanan yang enak-enak.
Namun burung parakeet tidak bahagia. Ia selalu ingat hutan Aceh tempat tinggalnya. Pada suatu hari ia berpura-pura mati. Sang Raja sangat sedih dan memerintahkan penguburannya dengan upacara kebesaran. Ketika persiapan berlangsung, burung itu diletakkan diluar sangkar. Saat itu ia gunakan untuk terbang mencari kebebasanya. Ia terbang menuju hutan kediamannya. Dimana rakyat burung parakeet setia menunggu kedatangannya.